Sabtu, 18 Agustus 2018 | 14.00 WIB
Metro24Jam>Life>Tak Berkategori>Kepingan ‘Tanah Dewata’ di Pulau Sumatera

Kepingan ‘Tanah Dewata’ di Pulau Sumatera

Rabu, 11 April 2018 - 11:42 WIB

IMG-139

Dalam kepercayaan Hindu Bali, setiap rumah wajib mendirikan Sangga, sebagai tempat melaksanakan ritual pribadi dan keluarga. (Ihsan/metro24jam.com)

LANGKAT, metro24jam.com – Aroma dupa langsung tercium saat baru tiba di Kampung Bali. Ya, kampung yang terletak di Dusun VI, Kampung Bali Cipta Darma, Desa Payatusam, Kecamatan Sei Wampu, Kabupaten Langkat ini bukan sekedar penyebutan belaka, tapi memang dihuni oleh etnis yang berasal dari Pulau Dewata. Mereka juga menjalankan ritual ibadah dan budaya seperti masyarakat Hindu di Pulau Bali.

Metro24Jam.com berkesempatan mengunjungi Kampung Bali Langkat, akhir pekan lalu. Ornamen bangunan Sangga, tempat sembahyang agama Hindu berdiri megah hampir di setiap rumah.

Sangga juga jadi penanda bahwa keluarga itu adalah masyarakat Bali. Dalam kepercayaan Hindu Bali, Sang Widi atau Tuhan disembah setiap pagi, siang dan sore. Dan persemayamannya ada di Sangga yang berdiri megah di depan rumah.

“Sangga ini untuk sembahyang sehari-hari. Ritualnya dilakukan pribadi-pribadi. Kalau ke Pura (baca; Pure), setiap ada kegiatan keagamaan besar dan ritualnya dipandu oleh Mangku (semacam pendeta atau pemangku agama),” kata Nyoman Sumandre, Kepala Dusun VI, Kampung Bali.

Kampung Bali memang sangat mirip dengan yang ada pada masyarakat di Pulau Bali. Begitu juga dengan penamaan, yang juga menggunakan nama Wayan, Putu, Made, Nyoman dan Ketut. Penamaan itu lebih kepada urutan anak. Jika anak pertama, mananya akan dimulai dari Wayan, begitu seterusnya sampai kepada anak paling kecil nomor empat atau lima, akan bernama Ketut.

“Nanti kalau ada adik Ketut, akan diulang lagi ke nama Nyoman. Begitu seterusnya,” imbuh Nyoman.

Tak ubahnya seperti masyarakat di Pulau Bali, mereka juga tetap mempertahankan tradisi keagamaan seperti Hari Raya Kuningan, Hari Raya Nyepi atau Hari Raya Galungan. Bahkan, masyarakat di sini juga masih terkoneksi dengan Bali terkait koordinasi dan pertukaran informasi.

Nyoman Sumandra, Kepala Dusun VI, Kampung Bali Langkat. (Ihsan/metro24jam.com)

“Kalau di sana (Bali) ada kegiatan, informasinya juga sampai kepada kami. Kalau ada anggota komunitas kami yang meninggal, kami kabari juga ke sana,” ujarnya lagi.

Nyoman mengatakan, Kampung Bali pertamakali dibuka pada awal tahun 1970-an oleh orang-orang Bali yang hidup merantau ke Sumatera. Mereka inilah yang kemudian menjadi pendiri Kampung Bali di Tanah Melayu Langkat.

Nyoman yang sudah dua periode menjadi kepada Dusun VI mengatakan bahwa gejolak Gunung Agung pada awal tahun 1960-an silam memporak-porandakan kehidupan masyarakat di Pulau Dewata. Makanya sebagian besar masyarakat memilih ikut program transmigrasi ke Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

“Orangtua saya bernama Ketut Sartre, asal Jalan Tanah Ampo, Kabupaten Karang Asem, Bali. Beliau baru menikah dan ikut transmigrasi ke Sumatera. Saya lahir di Perkebunan Bandar Selamat, Asahan, tepat sebelum Bapak dan Ibu saya menghabiskan kontrak 6 tahun di Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) lalu ikut membuka kampung di sini,” ujarnya.

Nyoman menyebut, Ketut Sarta mendapat kabar dari Parisada atau semacam pengurus Hindu di Medan bernama Waindarmo yang membawa kabar bagi warga transmigran bahwa negara punya lahan yang boleh digarap di kawasan Langkat.

Sejumlah awak media saat melakukan wawancara dengan Nyoman Sumandra, Kepala Dusun VI, Kampung Bali, Langkat. (Ihsan/metro24jam.com)

“Waktu itu orang tua saya cerita, kondisinya cukup sulit untuk kembali ke Bali. Orang tua saya masih surat-suratan dengan saudara di Bali. Makanya, orangtua saya termasuk dalam 22 KK (Kepala Keluarga) dari Afdeling Bandar Selamat. Sedangkan warga Bali yang di Afdeling Tanjung Gabus yang ikut pindah ada 33 KK. Jadinya ada 55 KK yang dulunya membuka kampung di sini,” ujarnya.

Semangat Spiritual Bali

Masyarakat Bali memang terkenal taat beragama. Walau berada jauh dari tanah leluhur, namun kepatuhan pada Sang Widhi terpelihara sangat baik. Bukan saja Sangga, tapi mereka juga punya Beji, semacam taman tempat sumber mata air.

Ada tata cara mengambil air di dengan ritual khusus. Kebetulan saat itu, Metro24Jam.com sempat menyaksikan cara mereka mengambil air untuk upacara Sembahyang Purnama. Sembahyang ini juga berlaku saat purnama mati atau tilam.

Ritual di Taman Beji, sebelum mengambil air suci untuk keperluan upacara sembahyang Purnama. (Ihsan/metro24jam.com)

“Selain sembahyang pagi, sidang dan sore, juga ada sembahyang purnama tilam. Artinya sembahyang 15 hari sekali,” jelas seorang wanita yang dipanggil Kadek, atau dalam bahasa Bali, wanita.

Setiap tugu atau monumen, dipasangkan dupa, bunga dan makanan. Lalu setelah mengucap mantra, dupa itu kemudian ditanam lalu mata air itu diambil. Setelah itu, air yang dianggap suci, dibawa untuk melanjutkan upacara di Pura Penataran Agung Widia Loka Nata yang ada di atasnya.

Masyarakat Kampung Bali Langkat, belum pernah melakukan ritual Ngaben atau upacara bakar mayat dalam kepercayaan Hindu Bali. Jika ada yang meninggal, maka mayat tersebut akan dikuburkan atau sebagian lain, langsung membakarnya. Pembakaran mayat tersebut dilakukan di rumah persemayaman di Medan atau Binjai.

“Kami punya tempat pemakaman umum juga. Walau jaraknya cukup jauh dari sini. Kalau Ngaben, ya belum ada. Tapi tetap mengabarkan ke Bali jika ada anggota keluarga yang meninggal,” ujarnya.

Di kampung ini terdapat dua pura. Satu yang kecil dan Pura Penataran Agung Widia Loka Nata yang besar. Menurut Nyoman pura kecil itu tidak begitu populer. Hanya jadi tempat ritual bagi 7 KK. Tapi kalau ada upacara besar, mereka juga tetap bergabung dan memusatkan ritual di Pura Penataran Agung Widia Loka Nata.

Pura besar ini menjadi saksi tumbuh dan berkembangnya masyarakat Hindu di Kampung Bali sejak tahun 1970-an. Lalu, sampai 1976, pura ini dipugar lalu dibangun permanen. Sekarang, terdapat patung Dewa Hanoman dan Dewa Ganesha di halaman pura tersebut.

Budaya Bali

Menandakan orang Bali atau bukan di Dusun VI, Kampung Bali Cipta Darma di Desa Paya Tusam, sangat mudah. Dari total 77 KK penduduk, sebanyak 33 KK adalah masyarakat Hindu Bali. Sedangkan sisanya, masyarakat Bali yang sudah masuk Islam, atau masuk masyarakat Karo dan Batak.

Peletakan sesaji untuk para dewa di Taman Beji. (Ihsan/metro24jam.com)

Ciri-ciri lainnya adalah, kalau pada rumah terdapat Sangga, sedangkan masyarakatnya menggunakan Udeng, Slimpet atau Kamen. Selain itu, penggunaan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi hal itu berangsur ditinggalkan. Tidak banyak generasi muda yang mengenakan pakaian adat Bali, walau sekedar memakai Udeng. Bahkan mereka tidak lagi mampu berbahasa Bali seperti orangtua mereka.

“Kita lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia saja sebagai bahasa sehari-hari,” kata Nyoman tanpa khawatir tentang ancaman hilangnya identitas masyarakat Kampung Bali di masa yang akan datang.

Dia mengaku, masyarakat Kampung Bali kerap diminta untuk tampil dalam rangka memeriahkan ulang tahun Kabupaten Langkat.

“Setiap hari ulang tahun Kabupaten Langkat, kami terus menyumbang Tari Margopati, Tari Cendrawasih. Tapi tidak ada Tari Kecak, karena kekurangan orang,” ujarnya.

Namun dia mengaku, dahulu kala masyarakat Kampung Bali punya alat musik tradisional seperti gong dan gamelan. Dia mengaku saat itu semarak budaya Bali sangat kentara sekali. Tapi, seiring berjalannya waktu, dinamika kehidupan sosial berkomunal mulai bergejolak.

Sampai pada satu masa, tak ada lagi yang mempedulikan alat-alat musik dan kesenian tradisional tersebut. “Pernah dulu itu ditemukan gong dan gamelan yang sudah berkarat. Tidak diurus. Makanya tidak ada lagi pemain gamelan. Sekarang pakai kaset sajalah,” katanya.

Meski mengakui bahwa Kampung Bali mengalami degradasi dalam seni dan bahasa, namun entah bagaimana dia tetap optimis akan muncul generasi yang cakap secara budaya, terutama budaya Hindu Bali.

“Saya optimis!” ujarnya.

Berdampingan

Bertetangga dan hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu Bali adalah hal yang menyenangkan bagi Abu Hanifah. Tokoh agama Islam keturunan Jawa di Kampung Bali itu mengakui praktik sosialisasi mereka sangat Bhinneka Tunggal Ika. Selama kampung ini dibuka, tidak pernah terjadi konflik SARA. Hal itu telah diwariskan oleh para orangtua untuk menjaga kerukunan.

Seorang wanita keturunan Hindu Bali di Kampung Bali Langkat bersiap melakukan ritual sembahyang Purnama. (Ihsan/metro24jam.com)

“Kami tinggal dan hidup berdampingan. Dan itu diajarkan orangtua kami. Kami tetap bersaudara walau budaya dan keyakinan kami berbeda,” ujarnya.

Abu mengaku memulai masa kecil di Kampung Bali ini. Menurutnya, kawasan ini cukup sakral. Bahkan dia mengaku acap kali mendengar suara-suara gamelan menggema di lembah atau perbukitan. Dia percaya, ada kekuatan magis yang terpelihara di Kampung Bali.

“Tapi itu dulu, waktu saya masih kecil. Tapi sekarang sudah gak ada,” ujarnya.

Potensi Terabaikan

Perjalanan ke Kampung Bali kami tempuh lebih 4 jam menggunakan sepeda motor. Dari Medan, kami melintasi Kota Binjai, lalu ke Lincun dan sampai ke Selesai. Selanjutnya, perjalanan ini juga melintasi Kecamatan Perhiasan sebelum memasuki Kecamatan Sei Wampu.

Kondisi jalan menuju lokasi cukup berat. Sebaiknya menggunakan sepeda motor pakai kopling atau minimal pakai motor bebek. Tidak disarankan menggunakan sepeda motor metik karena jalan berlumpur dan tanjakan berbatu kerap ditemui di sepanjang jalur. Tapi alangkah lebih aman lagi jika menggunakan kendaraan roda empat, selain sedan.

Kampung Bali menjadi salah satu daerah tujuan wisata masyarakat lokal. Hampir setiap akhir pekan ada saja wisatawan yang datang berkunjung. Walau jarang yang menginap, namun Wayan Sumandra mengaku melihat kemungkinan itu akan ada.

“Kadang mereka datang ke sini hanya untuk foto-foto. Bukan berarti nanti mereka akan datang untuk menikmati suasana malam di sini, atau membaur dengan masyarakat. Atau ada keadaan emergensi,” ujarnya.

Para wisatawan lokal di Pura Penataran Agung Widia Loka Nata, Kampung Bali, Langkat. (Ihsan/metro24jam.com)

Pernah ada beberapa orang wisatawan lokal yang mendirikan tenda dan bermalam di Kampung Bali. Nyoman bahkan menyebut Kampung Bali menjadi lokasi penelitian bagi mahasiswa. Namun, kekurangan sarana, seperti akses jalan menuju lokasi yang buruk, membuat hal itu menjadi terganggu.

“Ada orang yang ingin menyaksikan Kampung Bali di Langkat atau ada yang memang benar-benar belum pernah ke Bali, makanya mereka datang ke sini,” ujarnya.

Tak Ada Laut, Hanya Hutan

Jika Pulau Dewata Bali juga dikenal dengan keindahan alam lautnya, maka hal itu tidak dapat ditemukan di Kampung Bali Langkat. Di sini hanya ada kebun sawit dan karet sebagai sumber perekonomian warga. Nyoman mengatakan, sejak awal kedatangan orangtuanya, ditawarkan lahan dua hektar dengan cara membeli.

“Akhirnya bapak saya membeli delapan hektar lahan. Saat itu masih hutan belantara. Lalu kami garap dan kami tanam karet. Dari situlah kami berpenghasilan dan juga menjadi rata-rata mata pencarian warga, walau sekarang karet tidak lagi berharga,” katanya.

Para petani menjadi kecil hati saat mengetahui harga karet yang cukup lumayan tinggi di pasaran, tapi punya mereka dihargai sangat rendah. Perbedaan harga tengkulak dengan harga di pasaran hampir tiga kali lipat. Makanya tak heran jika masyarakat mulai menebangi pohon karet mereka dan menggantinya dengan sawit.

“Perbedaan harga itu yang memuat masyarakat jadi malas berkebun. Kalau diambil pun kami rugi. Rugi memupuk dan rugi membayar upah orang bekerja,” katanya.

Selain berkebun, maka warga Kampung Bali juga memelihara babi untuk menunjang perekonomian keluarga. (san)


Loading...
KOMENTAR ANDA
Berita Terkini Lainnya
Ide Unik di Jepang…! Acara Pemakaman Robot Anjing Sebelum Perangkat Kerasnya Didonorkan
- Selasa, 29 Mei 2018 - 17:26 WIB

Ide Unik di Jepang…! Acara Pemakaman Robot Anjing Sebelum Perangkat Kerasnya Didonorkan

Di pinggiran Tokyo, satu kuil Buddha 'berpikiran maju' telah membuat kehebohan lewat ritual pemakaman bagi 'hewan peliharaan' yang sangat istimewa.Dalam ...
Setelah Ultah ke-104, Ilmuwan Australia Ini akan Melakukan Perjalanan Kematian Mahal ke Swiss
- Selasa, 1 Mei 2018 - 14:36 WIB

Setelah Ultah ke-104, Ilmuwan Australia Ini akan Melakukan Perjalanan Kematian Mahal ke Swiss

Australia akan kehilangan salah satu ilmuwan terkenalnya dalam pekan ini. Itu, setelah akademisi David Goodall, hanya punya satu keinginan saat ...
Pemuda 23 Tahun ‘Terjebak’ Dalam Tubuh Bayi Ini
- Jumat, 27 April 2018 - 00:30 WIB

Pemuda 23 Tahun ‘Terjebak’ Dalam Tubuh Bayi Ini

Seorang pria berusia 23 menghabiskan hidupnya seolah 'terjebak' di dalam tubuh mungil sesosok bayi seberat 5,6 kilogram. Dia tidak dapat ...
Ayah Pencinta Gadget Sejati, Namai Putrinya Sesuai Merk Smartphone China
- Sabtu, 21 April 2018 - 17:13 WIB

Ayah Pencinta Gadget Sejati, Namai Putrinya Sesuai Merk Smartphone China

Banyak sekali orang yang mengabadikan nama-nama orang atau benda yang disukai menjadi nama anak. Seperti yang dilakukan seorang ayah asal ...
Habiskan Waktu Saat Libur Paskah, Sebagian Warga Inggris Terkapar di Jalan
- Minggu, 1 April 2018 - 10:21 WIB

Habiskan Waktu Saat Libur Paskah, Sebagian Warga Inggris Terkapar di Jalan

Penggila pesta di Newcastle dan Birmingham membanjiri kota di malam kedua jelang Jumat Agung, Jumat (30/3/2018) waktu setempat. Tak peduli ...
Ada-Ada Saja! Sekali Antar Rp2 Juta, Istri Gugat Cerai Suami
- Kamis, 22 Februari 2018 - 10:14 WIB

Ada-Ada Saja! Sekali Antar Rp2 Juta, Istri Gugat Cerai Suami

Seorang wanita akhirnya mengajukan cerai karena suaminya selalu meminta agar dia membayarnya hampir Rp2 juta setiap kali sang suami mengantarnya ...