Minggu, 18 Februari 2018 | 09.34 WIB
Metro24Jam>Life>Tak Berkategori>Foto Eksekusi Tentara Viet Cong Ini, Bantu Kekalahan AS Dalam Perang Vietnam

Foto Eksekusi Tentara Viet Cong Ini, Bantu Kekalahan AS Dalam Perang Vietnam

Sabtu, 27 Januari 2018 - 17:50 WIB

IMG-119

Eksekusi Nguyen Van Lem di jalanan Vietnam yang direkam Max Hasting. (AP/DailyMail)

MEDAN, metro24jam.com – Lewat dinihari, Rabu (31/1/1968), tepat pada jam 2.47 Wib, seorang polisi militer Amerika Serikat (AS) mengirimkan pesan darurat lewat radio dari posnya, di luar kedutaan AS di belahan dunia lainnya: “Signal 300! Mereka masuk! Tolong aku! Bantu aku!” –sebelum dia ditembak mati, bersama beberapa penjaga lainnya.

Peringatan prajurit yang ketakutan, di tengah ‘kegelapan dunia’ setengah abad lalu itu, menandai dimulainya serangan paling dahsyat terhadap kebanggaan dan prestise AS, setelah Pearl Harbor pada tahun 1941.

Pasukan Komando Viet Cong, berkeluaran keluar dari sebuah taksi dan truk kecil di depan kompleks kedutaan AS di Saigon. Menggunakan tas berisi bom, mereka meledakkan lubang di dalam dinding perimeter kedutaan, lalu berlari masuk sambil menembakkan senapan AK-47 ke arah penjaga di sana.

Itulah peristiwa paling spektakuler yang terjadi 50 tahun lalu, yang disebut sebagai “Serangan Tet”. Suatu serangan terkoordinasi dari 67.000 gerilyawan dan tentara reguler Vietnam Utara–yang dilakukan tepat pada liburan Tahun Baru Vietnam yang disebut ‘Tet’, di tengah gencatan senjata, untuk menangkapi orang Amerika dan sekutunya dari Vietnam Selatan, yang tidak siap.

Hanya segelintir orang AS yang tidur di gedung kedutaan tersebut saat Viet Cong menyerang. Saat penyerang berkumpul, seorang sersan angkatan laut yang berpikir cerdas, Ron Harper, menutup dan mengganjal sebuah pintu jati berat, dan akhirnya bertahan dari serangan roket yang dilesakkan Viet Cong untuk menghajar dinding Kedutaan Amerika Serikat itu.

Pertarungan senjata yang panjang kemudian dimulai antara pihak komunis di halaman kedutaan–dengan sejumlah kecil warga AS di sekelilingnya.

Petugas malam kedutaan, Allan Wendt, mengatakan bahwa, dia sempat berpikir bahwa itu akan menjalani saat-saat terakhirnya. Dia menelepon markas Angkatan Darat AS dan meminta bantuan.

Petugas yang menerima meyakinkannya, bahwa pasukan akan segera tiba, namun mengatakan bahwa di saat bersamaan mereka harus merespons beberapa serangan di sekitar wilayah Saigon. “Tempat ini adalah simbol kekuatan Amerika di Vietnam,” protes Wendt dengan emosional ketika itu.

Seorang pejabat di ruang situasi Gedung Putih–yang kemudian diduduki oleh Presiden Lyndon Johnson–menelepon sang diplomat, setelah mendengar laporan tentang drama tersebut.

Max Hasting (kanan) saat meliput perang di Vietnam. (DailyMail)

Apa yang terjadi kemudian, seorang pejabat menuntut Wendt yang sendirian dan dicekam ketakutan. Wendt akhirnya hanya mengangkat gagang telepon, sehingga Washington bisa mendengar suara tembakan dari senapan otomatis, yang hanya berjarak beberapa meter jauhnya.

Bahkan saat drama tersebut terjadi di kedutaan, di sejumlah medan perang lainnya, tentara AS dan Vietnam Selatan harus mempertahankan hidup mereka melawan penyerang komunis yang datang.

Apa yang kemudian membuat dunia dan Panglima Angkatan Darat AS, Jenderal William Westmoreland tertegun adalah, bahwa musuh mereka itu –sekelompok petani Asia yang bertelanjang kaki dan berpakaian compang-camping–telah memperlihatkan kemampuan untuk melakukan serangan tersinkronisasi dalam jumlah yang besar.

Padahal, beberapa pekan sebelumnya, Westmoreland baru saja kembali ke Amerika Serikat untuk mengumumkan kepada media, dan mengatakan kepada rakyat, bahwa perang tinggal sedikit lagi akan dimenangkan. “Musuh tidak pernah memenangkan pertempuran besar dalam kurun lebih dari satu tahun… Mereka hanya bisa memberikan perlawanan besarnya di dekat tempat-tempat suci… kekuatan gerilyanya sudah menurun,” sebut Westmoreland ketika itu.

Disebutkan ketika itu, ada 492.000 tentara AS di Vietnam, bersama dengan 61.000 tentara sekutu dan 650.000 warga Vietnam Selatan yang berseragam, didukung 2.600 pesawat, 3.000 helikopter dan 3.500 kendaraan lapis baja. Namun, komunis telah berani melakukan serangkaian serangan bersenjata di jalan-jalan di Saigon, di mana 4.000 Viet Cong dikerahkan; di ibukota lama Vietnam, Hue; dan di lebih dari seratus ibukota kabupaten dan provinsi.

Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Aspek luar biasa dari Perang Vietnam adalah, hanya sedikit orang Amerika yang tahu tentang siapa musuh mereka sebenarnya. Amerika Serikat meyakini bahwa, revolusioner legendaris Ho Chi Minh yang memerintah Vietnam Utara, dengan Jenderal Nguyen Vo Giap, menjalankan perang.

Tanpa disadari, sebenarnya, Ho yang saat itu berusia 76 tahun telah terpinggirkan, dan Giap–pemenang dalam perlawanan terhadap pasukan pendudukan Prancis pada tahun 1954 – telah dikesampingkan oleh generasi baru yang lebih radikal.

Penguasa sebenarnya Vietnam Utara pada tahun 1968 itu, bernama Le Duan–yang nyaris tidak dikenal sama sekali. Dia lah yang melawan keinginan Ho Chi Minh, Giap dan sebagian besar militer setempat.

Dua bersikeras, bahwa waktunya telah tiba bagi Komunis untuk mengerahkan segenap kemampuan dalam serangan ke Vietnam Selatan. Le Duan memprediksi bahwa setengah juta simpatisan sudah siap berperang untuk mengusir ‘Si Hidung Mancung’ dari negara itu.

Namun, bagi orang Amerika tertangkap, sebagian besar tidak menyadari hal itu. Karena logika berpikirnya mengatakan bahwa Serangan Tet, adalah kegilaan militer. Akibatnya, hanya dalam beberapa jam sejak serangan dimulai, 10.000 tentara komunis telah bergerak ke benteng tua di Hue dan menduduki sebagian besar kota, nyaris tanpa perlawanan.

Setelah serangan itu, butuh waktu hingga tiga pekan bagi pasukan AS dan Vietnam Selatan saat melakukan serangan yang penuh dengan pembunuhan dan kekejaman, untuk merebut kembali Hue.

Kapten Charles Krohn, seorang perwira dari Kavaleri 2/12, membandingkan nasib yang dialami pasukannya, setelah tidak sengaja memerintahkan mereka ke menuju selatan kota, dengan Brigade Cahaya pada Perang Krimea.

Petugas medis sedang mengobati seorang tentara yang terluka dalam serangan ke Hue. (AFP/GettyImages/DailyMail)

“[Ketika itu] Kami hanya harus maju 200 yard. Tapi baik kami dan ‘Brigade Cahaya’ harus menghadapi gelombang manusia yang membuat lawan berisiko kecil… Tidak ada alasan yang meyakinkan atau mendesak bagi batalyon AS untuk menyerang pasukan Angkatan Darat Vietnam Utara yang dilindungi ‘benteng hidup’ di lapangan terbuka,” katanya.

Dalam pertempuran di sebuah dusun, empat mil sebelah utara Hue, pada tanggal 4 Februari, dia menulis: “Empat ratus dari kami mendapat tugas. Beberapa di antaranya bahkan tidak pernah berhasil melewati langkah pertama. Pada saat kami sampai di sisi lain medan perang, sembilan orang sudah tewas dan 48 lainnya terluka… Kami hanya mampu membunuh [paling banter] delapan NVA (North Vietnamese Army) dan membawa empat tahanan… Kami melaporkan tokoh yang lebih tinggi ke [petugas di] Brigade, berdasarkan keinginan yang akan membuat kami merasa lebih baik. Secara pribadi, kami tahu bahwa musuh hampir tidak tergores. ”

Krohn melihat mayat seorang petugas medis bernama Johnny Lau dievakuasi ke helikopter: “Kami baru saja berbicara sebelum serangan tersebut, dan dia mengatakan keluarganya menjalankan bisnis belanjaan. Kami melanjutkan pembicaraan tentang cara terbaik untuk menyiapkan daging sapi dengan jahe saat serangan dimulai dan berjanji akan mengambilnya nanti,” lanjutnya. Dan kenyataannya dia tidak pernah berhasil.

Dalam enam pekan kemudian, kekuatan tempur batalyon akan berkurang dari 500 menjadi tidak sampai dari 200. “NVA memiliki kepemimpinan senior yang lebih baik daripada yang kita lakukan,” sambung Khron lagi.

40 Jam Non Stop
Sementara itu, sebelumnya sebagian besar kegiatan sehari-hari yang dilakukan di Rumah Sakit Lapangan Ke-3 AS adalah memperbaiki gigi buruk warga sipil Saigon. Fasilitas itu akhirnya harus berkecamuk dalam pusaran.

Di saat ahli bedah AS sedang mengobati seorang Viet Cong yang terluka, seorang perawat menyandarkan kepalanya di pintu dan berkata: “Mereka (Viet Cong) baru saja memasuki kedutaan.”

Suara orang yang tidak percaya, bergumam, “Ya, benar!”

Ajudan medis William Drummond berkata: “Maraton dimulai pada saat itu…kami bekerja terus menerus selama 40 jam.”

Ada keputusan ‘kejam’ yang harus dibuat. Mereka terpaksa meninggalkan beberapa pasien luka parah, mengingat sumber daya harus diprioritaskan. Beberapa petugas medis terjatuh. Drummond menggambarkan robohnya kepala bagian bedah: “Dia seperti orang yang tidak mampu untuk menghadapi keadaan seperti itu.”

Selanjutnya, ketika Drummond melangkah keluar, dia dihadapkan pada satu unit truk seberat dua setengah ton yang membawa selusin mayat tentara Amerika.

Seorang bintara junior yang mengepalai kamar jenazah, suatu waktu harus mengurusi 600 mayat, Vietnam dan Amerika. Sementara rumah sakit hanya memiliki 150 tempat tidur, dan pada situasi darurat itu, harus mampu menampung 500 pasien.

Drummond kemudian menyadari bahwa pekerjaannya yang paling sulit adalah ketika berada di antara ‘pengharapan’.

“Sungguh sangat sulit, ketika melihat seseorang yang mungkin adalah adik saya, atau seusianya, sedang berbicara dengan saya, dan kami tahu dia akan segera meninggal,” tulisnya.

Perawat kepala rumah sakit dan asistennya adalah ibu-ibu berusia 50-an tahun. Salah satu dari mereka melihat seorang marinir melompat dari sebuah truk dengan tulang siku keluar. Perawat itu hanya bisa berkata, “Kasihan…! Kau harus kehilangan lengan mu.”

Dan marinir itu menjawab: “Tidak apa-apa sayang; Mereka juga menembak buah zakar ku!”

Pukulan Besar Terhadap Presiden Johnson
Konfrontasi pada kedutaan AS di Saigon berakhir setelah enam jam, ketika orang terakhir dari 19 penyerang dibunuh atau ditangkap. Tidak ada yang berhasil menembus gedung kedutaan besar utama.

Tentara AS kocar-kacir dalam serangan sporadis pada perayaan Tahun Baru Tet. (AP/DailyMail)

Namun, suka atau tidak suka, cerita itu segera tersiar ke seluruh penjuru dunia, bahwa mereka (Viet Cong) telah menyerbu benteng kekuatan AS di Asia Tenggara ini.

Itu menjadi pukulan besar bagi kebanggan dan prestise Amerika, atas kredibilitas Panglima Angkatan Darat Jenderal Westmoreland, sekaligus kepemimpinan Presiden Johnson sendiri. Sangat menghancurkan!

Ironisnya, Serangan Tet menjadi sebuah kegagalan militer Vietnam Utara. Hal itu kemudian mereda selama musim semi, ketika komunis berhasil diusir dari setiap tempat yang semopat mereka duduki sebentar.

20.000 pasukan Viet Cong terbunuh, jauh lebih banyak dibanding orang Amerika dan Vietnam Selatan. Sampai sekarang, Viet Cong harus menanggung beban perang, hancur berantakan sebagai pasukan tempur.

Selama merebut dan mempertahankan kota Hue, Viet Cong telah membunuh dengan keji, lebih dari 3.000 pria, wanita dan anak-anak, yang diduga pendukung pemerintah Saigon.

Namun, apa yang dicatat adalah, bahwa kematian ‘hanya’ satu orang, akhirnya mendapat perhatian dunia yang jauh lebih besar dibanding pembunuhan massal. Karena peristiwa itu terekam dalam kamera film.

Di Saigon, perwira Viet Cong Nguyen Van Lem, telah menggorok leher Letkol Vietnam Selatan, Nguyen Tuan, istrinya, enam anak dan ibunya yang berusia 80 tahun.

Pada tanggal 1 Februari, Lem sendiri ditangkap dan dibawa ke hadapan Kepala Polisi Saigon, Brigadir Nguyen Ngoc Loan, satu dari sekian teman Letkol yang mati.

Dengan meminjam pistol Smith & Wesson, Ngoc Loan menembak Lem tepat di kepala, persis seperti eksekusi yang dilakukan oleh pihak komunis kepada pihak mereka.

Meski begitu, gambar yang direkam fotografer Associated Press, Eddie Adams, tentang eksekusi Nguyen Van Lem yang hingga sekarang sangat terkenal–sehingga memberi Adams penghargaan Pulitzer–menjadi harga mahal yang harus dibayar Amerika dalam propaganda tersebut.

Wakil presiden Vietnam Selatan, Nguyen Cao Ky, menulis: “Sebagai gantinya, perjuangan untuk kemerdekaan dan penentuan nasib sendiri berubah menjadi citra eksekusi yang tampaknya tidak masuk akal dan brutal.”

Namun, segera setelah pertempuran, Viet Cong merasa seperti orang-orang yang kalah. Kepala militer mereka Tran Do berkata: “Tet adalah serangan habis-habisan. Kami kemudian membuat tujuan yang tidak pantas dan tak terjangkau… karena kata-kata ‘habisi mereka’ terdengar begitu indah. Kami akhirnya jatuh dalam kesulitan luar biasa.”

Tran Do secara terus terang mengakui, bahwa gerilyawan telah kehilangan kendali atas sebagian besar negara.

Dalam masyarakat bebas, pemimpin Vietnam Utara, Le Duan, pasti telah dipermalukan dan didiskreditkan oleh kegagalan luar biasa dalam pertaruhan besarnya pada Serangan Tet. Sebaliknya, Presiden Lyndon Johnson, malah terbukti menjadi korban politik terbesarnya.

Johnson Mundur
Orang-orang Amerika, yang sudah skeptis terhadap perang tersebut, mengalami trauma dengan kemampuan serangan komunis yang memberikan ancaman kematian dan penghancuran besar-besaran, dengan penghinaan secara simbolis melalui serangan ke kedutaan.

Sehari setelah benteng Hue diamankan, seorang pejabat Amerika menuliskan kenyataan pahit kepada seorang kolega: “Di selatan sungai, setiap rumah ditembaki. Mobil, tank dan pohon, terbakar di jalanan. Roket dan lubang artileri sebesar 8 inci ada di mana-mana… Semua rumah dan toko di sekitar pasar besar, di mana sampan selalu diparkir, hancur. Napalm, CS (Counter Strike–serangan balasan), 8 inci dan bom sebera 500 pon (250 kg) digunakan setiap hari.

“B*ji**an di Saigon tidak tahu masalah besarnya… Yang membuat saya sangat marah adalah, jenderal-jenderal kami yang mengatakan ‘Kami tahu itu akan datang”, seolah-olah membiarkan hal itu terjadi. Dan sekarang, dengan kekalahan luar biasa yang dialami, mereka mengklaim sebuah kemenangan dengan menghitung tubuh-tubuh [tak bernyawa].”

Tepat sebelum Tet, saya berada di antara sekelompok wartawan asing yang mengunjungi Gedung Putih untuk mendengar sebuah lelucon berapi-api selama 40 menit oleh Lyndon Johnson tentang tekadnya untuk bertahan di Vietnam.

Namun pada malam tanggal 31 Maret, Presiden menyampaikan sebuah pidato di televisi nasional.

“Selamat malam rekan-rekan Amerika saya. Malam ini saya ingin berbicara dengan Anda tentang perdamaian di Vietnam.” sebut Presiden Johnson saat akan mengumumkan penghentian sepihak pemboman di Vietnam Utara, dan komitmennya untuk melakukan negosiasi.

Anak-anak berlari ketakutan di jalanan saat AS melancarkan serangan Bom Napalm. (AP/DailyMail)

Sebelumnya, ketika penulis pidato, Harry Macpherson, melihat presiden sedang menyusun ulang draf tersebut, dia bertanya kepada rekannya di Gedung Putih: ‘Apakah dia (Presiden Johnson) akan mengatakan ‘sayonara’ [mengundurkan diri]?’.

Ya, kenyataannya memang begitu. Johnson mengakhiri pidatonya di TV: “Saya tidak akan mencari, dan saya tidak akan menerima, nominasi partai saya untuk masa jabatan lain sebagai presiden Anda.”

Serangan Tet tersebut mematahkan keinginan rakyat Amerika dan juga Lyndon Johnson, juga pemimpin militer Vietnam Utara, Le Duan, yang ditransformasikan menjadi sebuah kemenangan dalam jangka panjang, karena korban di AS terus meningkat.

Ketika Richard Nixon menggantikan Johnson sebagai presiden pada Januari 1969, dia memenuhi harapan rakyat Amerika Serikat dengan memulai pemindahan pasukan secara progresif dari Indocina–sebuah penarikan mundur yang diberi nama ‘Vietnamisasi’.

Di Paris, pada Januari 1973, AS dan Vietnam Utara menandatangani sebuah perjanjian damai, di mana orang-orang Amerika terakhir keluar dari negara tersebut, sedangkan pasukan Komunis mengendalikan tanah mereka.

Dua tahun kemudian, ketika Nixon dilengserkan akibat skandal Watergate, Vietnam Utara menilai AS terlalu lemah dan melancarkan serangan moral untuk menutupi serangan besar terbaru Komunis, yang menguasai tentara Vietnam Selatan.

Kekalahan bagi AS, ‘Serangan Tet’ disempurnakan dengan kejatuhan Saigon pada April 1975.

Inilah pelajaran untuk semua perang modern: para jenderal kadang-kadang bisa mengklaim kemenangan– seperti yang dilakukan Barat setelah jatuhnya Taliban di Afghanistan pada tahun 2001 dan dalam invasi Irak ke-2003–namun kenyataannya, semua itu jauh dari akhir cerita.

Serangan bunuh diri Viet Cong yang mengakibatkan puluhan ribu dari mereka tewas pada tahun 1968 menunjukkan bagaimana gerilyawan dapat merebut kemenangan dari kekalahan, bahkan melawan mesin militer terkuat di bumi. (asp)

Disadur dari DailyMail, seperti ditulis dalam buku Vietnam: An Epic Tragedy 1945-75 karangan Max Hasting yang dipublikasikan oleh HarperCollins.


Loading...
KOMENTAR ANDA
Berita Terkini Lainnya
Di Thailand, Ada Kedai Kopi yang Pelayannya Hanya Pakai CD, Netizen Perempuan Mengamuk
- Minggu, 4 Februari 2018 - 19:07 WIB

Di Thailand, Ada Kedai Kopi yang Pelayannya Hanya Pakai CD, Netizen Perempuan Mengamuk

Foto seorang pelayan nyaris tanpa pakaian di sebuah kedai kopi di Distrik Sattahip, Chon Buri, yang diposting ke Facebook, memicu ...
Warga Mengira Benda Ini Metetor, Setelah Diteliti Ternyata…
- Sabtu, 3 Februari 2018 - 23:49 WIB

Warga Mengira Benda Ini Metetor, Setelah Diteliti Ternyata…

Sebuah bongkahan menyerupai campuran batu dan besi jatuh dari langit. Warga yang menyaksikan itu menduga ini adalah benda langit yang ...
Sandang 2 Gelar Master, Profesor Matematika Ini Pernah Bintangi Film Dewasa Gay
- Selasa, 2 Januari 2018 - 12:41 WIB

Sandang 2 Gelar Master, Profesor Matematika Ini Pernah Bintangi Film Dewasa Gay

Mahasiswa sebuah universitas di Italia begitu kaget ketika mengetahui bahwa profesor matematika mereka ternyata adalah seorang mantan bintang film dewasa ...
Tragis! 18 Jam Setelah Ucapkan Sumpah Pernikahan, Mempelai Wanita Ini Hembuskan Nafas Terakhirnya
- Senin, 1 Januari 2018 - 07:01 WIB

Tragis! 18 Jam Setelah Ucapkan Sumpah Pernikahan, Mempelai Wanita Ini Hembuskan Nafas Terakhirnya

Seorang mempelai wanita mengangkat tangannya dalam kegembiraan sesaat setelah sang pujaan hati menikahi dirinya, detik-detik yang mengharukan, hanya beberapa jam ...
Bayi Ini Selamat Setelah Lahir dengan Jantung di Luar Tubuh
- Rabu, 13 Desember 2017 - 13:36 WIB

Bayi Ini Selamat Setelah Lahir dengan Jantung di Luar Tubuh

Vanellope Wilkins menjadi bayi pertama di Inggris yang bisa bertahan hidup dengan kondisi jantung berada di luar tubuhnya.Bayi yang baru ...
Imlek 2569, Bagaimana Peruntungan Anda di Tahun Anjing Bumi 2018?
- Minggu, 3 Desember 2017 - 18:16 WIB

Imlek 2569, Bagaimana Peruntungan Anda di Tahun Anjing Bumi 2018?

Kata 'Shio' yang diambil dari dialek Hokkian, 'Sheshio' atau dalam Bahasa Inggris Chinese Zodiac diurutkan berdasarkan siklus tahunan. Tahun baru ...